Laman

Selasa, 17 Mei 2011

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keluarga merupakan jalinan ikatan pengabdian antara suami, istri, dan anak. Kata keluarga ini berasal dari bahasa sansekerta, yaitu dari kata “Kula” dan “Varga”, Kula artinya abdi, hamba, dan Varga artinya jalinan, ikatan. Jadi keluarga di sini adalah persatuan yang terjalin antara seluruh anggota keluarga dalam rangka pengabdiannya kepada amanat dasar yang mestinya diemban oleh anggota kelurga yang bersangkutan.

Menurut Veda Smrti Bab. IX. 45 bahwa keluarga dikatakan sempurna yang terdiri atas : suami, istri, keturunannya (putra-putrinya). Dimana satu sama lain saling berpacu menanamkan pengabdiannya masing-masing secara tulus sebagai suatu kewajibannya terhadap unsur-unsur lainnya untuk mengemban misi kehidupan berkeluarga dimaksud. Dalam hal ini peran orang tua (suami dan istri) sangatlah penting dalam mewujudkan tujuan dari perkawinan yaitu Dharma, Artha, Kama, Praja, terlebih-lebih peran seorang istri. Seorang istri sangatlah berperan penting dalam mewujudkan tujuan perkawinan tersebut, istri merupakan seorang ibu yang adalah sebagai penerus keturunan dan penyejuk dalam keluarga, serta seorang istri juga diibaratkan sebagai sakti dari sang ayah/sang suami, seperti Deva dengan sakti-Nya Devi.

Apabila peranan orang tua itu dapat diberdayakan dengan baik maka akan memberikan dampak yang positif dalam mewujudkan tujuan keluarga/perkawinan yang pada akhirnya akan berpengaruh pada lingkungan masyarakat, bangsa, dan Negara.

B. Rumusan Masalah

Dari pemaparan di atas, timbul beberapa permasalahan, antara lain :

1. Apa saja yang menjadi Swadharma seorang istri ?

2. Bagaimana kewajiban pokok seorang istri ?

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui Swadharma seorang istri.

2. Untuk mengetahui bagaimana kewajiban pokok seorang istri.

3. Sebagai syarat untuk nilai tugas mata kuliah Tata Susila II.

BAB II

STRI SASANA

Kata istri berasal dari kata Stri. Stri dalam bahasa sansekertanya berarti “pengikat kasih”. Fungsi sebagai istri adalah menjaga jalinan kasih sayang kepada suami dan anak-anaknya (putra-putrinya). Sebagai ibu dalam rumah tangga terkadang juga sebagai Devi dan Permaisuri. Devi artinya istri sebagai sinar yang menentukan keadaan dalam rumah tangga. Istri sebagai Permaisuri, kata Permaisuri berasal dari kata “Parama” dan “Isvari”, Parama artinya pertama dan Isvari artinya pemimpin. Dengan demikian, keadaan lahir batin rumah tangga/keluarga sangat tergantung pada sang ibu sebagai pemimpin rumah tangga dalam bidang mengatur tata hubungan, tata grha, tata bhoga, tata keuangan, tata busana, dan lain sebagainya.

1. Swadharma Sebagai Istri, Sebagai Berikut :

a. Memenuhi do’a dan harapan ayah yang menikahkannya.

“Wahai penganten wanita, datangilah seluruh anggota keluarga suamimu. Bersama-sama dalam sukha dan dukha dengan mereka. Semoga kehadiranmu di rumah suamimu memberikan kebahagiaan dan keberuntungan kepada suamimu, mertuamu laki-laki dan perempuan, dan menjadi pengayom bagi seluruh keluarga ”, (Atharva Veda XIV. 2. 26).

“Wahai mempelai wanita denan kedatanganmu ke rumah suamimu, semogalah kamu menjadi petunjuk yang terang terhadap keluarganya. Membantu dengan kebijaksanaan dan pengertian, semogalah kamu senantiasa mengikuti jalan yang benar dan hidup yang sehat dalam rumahmu. Semogalah Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa menghujankan rahmat-Nya kepadamu”, (Atharva Veda XIV. 2. 27)

b. Memenuhi harapan seorang suami kepada istrinya.

“Seorang istri hendaknya melahirkan seorang anak yang perwira, senantiasa memuja Ida Sang Hyang Widhi dan para Devata, hendaknya patuh kepada suaminya dan mampu menyenangkan setiap orang, keluarga dan mengasihi binatang ternak”. (Rg Veda X. 85. 43).

“Seorang istri adalah pengedali keluarga. Ia seorang yang cerdas. Ia mengatur seluruh keluarga, ia sangat berharga dalam keluarga dan yang mendukung kehidupan keluarga”, (Yajur Veda XIV. 22).

c. Berpenampilan lemah lembut dan simpatik.

“Wahai wanita, berjala lihatlah ke bawah, jangan menengadah, bila sedang duduk tutuplah kakimu rapat-rapat”, (Rg Veda VII. 33. 19).

d. Setia kepada suaminya, senantiasa waspada, tahan uji, menghormati yang lebih tua.

“Wahai mempelai wanita, hendaklah kamu merasa beruntung dalam keluarga suamimu dengan jalan melahirkan putra-putri. Hendaklah senantiasa waspada melayani, tahan uji dan menjaga nama baik keluarga suamimu”, (Rg Veda X. 85. 27)

2. Kewajiban Pokok Istri :

a. Menciptakan kesejahteraan keluarga.

Dikatakan menciptakan, karena kesejahteraan itu memang harus diupayakan begitu giat oleh seorang istri. Seorang istri mempunyai kiat-kiat tersendiri untuk menciptakan kesejahteraan itu, tergantung pada kondisi masing-masing keluarga.

Pada Rg Veda V. 28. 3 terpetik sebuah do’a bagi pasangan suami istri, menyebutkan agar pasangan itu berusaha dengan keras untuk kemakmuran yang lebih besar.

Pada Yajur Veda XIV. 21 terdapat sebuah do’a agar memiliki/kehadiran istri itu tercapai yang berumur panjang, kecemerlangan, kemakmuran pertanian dan kesejahteraan.

b. Pendidikan anak-anak.

Melalui pendidikan yang baik, seseorang mampu mendapatkan kesadaran hidup, serta lepas dari kebodohan. Karena itu, seorang istri yang menjadi partner setia dari seorang suami harus mampu mengatasi kendala-kendala di atas, yaitu :

1) Pendidikan sangat penting artinya bagi kehidupan manusia.

2) Mampu mengatasi pembiayaan pendidikan itu dengan mengambil inisiatif dan kiat-kiat yang tepat untuk pembiayaan pendidikan putra-putrinya.

3) Menempatkan kembali arti pentingnya harta kekayaan itu untuk kehidupan yang bermanfaat.

c. Kebersihan, kesehatan, dan kerapian rumah tangga.

Kebersihan adalah pangkal kesehatan, demikian kata orang-orang bijaksana. Kesehatan memang sangat penting artinya bagi suatu keluarga. Apa manfaatnya berlimpah harta kekayaan jika keluarga sakit-sakitan terus (kurang terjamin kesehatannya). Karena itu istri yang sebagian besar kehidupannya di rumah mempunyai kewajiban pokok untuk memperhatikan kesehatan keluarganya, melalui kebersihan tentunya.

d. Penyelenggaraan aktivitas agama.

Ini berarti bahwa wanita memegang peranan yang sangat penting dalam proses penyelenggaraan aktivitas agama itu. Karena itu kesucian acara suatu ritual sangat ditentukan oleh pelimpahan wewenang yang diberikan pada istri suatu keluarga Hindu.

Weda Smrti III. 56 sebagai berikut : “Dimana wanita dihormati, di sana Dewa merasa senang, tetapi dimana mereka tidak dihormati, tidak ada upacara suci apapun yang akan berpahala”.

e. Istri sebagai penerus keturunan.

Salah satu tugas kewajiban pokok yang sangat penting bagi seorang istri adalah istri itu menjadi penerus keturunan keluarga tersebut. Dari istri itulah akan lahir putra-putri yang akan menjadi penerus keluarga tersebut. Istri memegang peranan yang sangat penting bagi keturunannya. Karena itu, dalam memilih calon istri diperlukan persyaratan tertentu seperti asal-usul keturunan, sikap mental calon istri dan persyaratan pendidikan. Dengan demikian, jelaslah bagaimana pentingnya arti seorang istri untuk penerus keturunan suatu keluarga.

Rg Veda X. 85. 43, terpetik sebuah do’a sebagai berikut :

“Virasup devakama syona

Sam no bha va dvipade

Sam catuspade”

Artinya :

Mempelai wanita seharusnya melahirkan anak-anak laki yang gagah, berani, menyembah para Deva, ramah dan menyenangkan kepada semua orang-orang dan binatang-binatang keluarga itu.

f. Menjaga kerukunan dan kedamaian keluarga.

Dengan sopan dan keramah-tamahannya istri juga mempunyai hubungan baik dengan keluarga suaminya, baik bapak, ibu mertua, serta saudara-saudara suaminya. Figure kepemimpinan istri yang baik mampu mempengaruhi kerukunan dan kedamaian keluarga itu.

g. Menjaga kesetiaan terhadap suami.

Kesetiaan adalah satu mutiara yang sangat tinggi harganya. Karena itu, seberapapun hebatnya gelombang kehidupan yang melanda suami istri pasti bisa dihadapi dengan tenang. Contohnya kesetiaan Rama dan Sita patut menjadi bahan renungan.

Kesetiaan merupakan salah satu ajaran yang penting di dalam agama Hindu yaitu Dasa Yama Brata. Karena itu, bila istri selalu dan tetap mempertahankan kesucian itu, maka pasti mendapat anugrah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa, serta memperoleh kehidupan bahagia.

h. Kesucian keluarga.

Kesucian sangat penting maknanya bagi suatu keluarga, karena dengan kesucian, keluarga itu akan mendapatkan kebahagiaan hidup. Karena itu, kesucian menjadi suatu amanat untuk dicapai.

Rg Veda VIII. 95. 9, “Suddha vetrani jighnase”

(Tuhan Yang Maha Esa yang suci menghancurkan kejahatan dan perbuatan jahat).

Rg Veda VIII. 95. 7, “Suddha asirvan mamattu”

(Kesucian hati membuat orang bahagia).

i. Menambah pengetahuan.

Menjadi istri di jaman sekarang ini sangat tidak mudah, mengingat masalah yang dihadapinya semakin kompleks. Di satu sisi dia harus mengajar dan di sisi lain harus belajar. Mengajar, karena ia menjadi guru pertama bagi putra-putrinya. Selain itu, seorang istri harus selalu belajar mengingat perkembangan ilmu pengetahuan nyag semakin maju, demi kemajuan dan kebahagiaan rumah tangganya.

j. Penghormatan terhadap leluhur.

Istri mempunyai peranan yang pnting dalam keluarga, karena dengan melahirkan putra-putri yang suputra dapat menyelamatkan para leluhur dari neraka.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat dipetik dari pemaparan di atas adalah, bahwa kesusksesan ataupun kehancuran suatu keluarga/rumah tangga tergantung pada baik buruknya pembinaan dan pengarahan seorang suami kepada istrinya serta sejauh mana seorang istri mampu menjalankan swadharma dan kewajibannya sebagai seorang istri, karena swadharma dan kewajiban pokok seorang istri adalah menciptakan kesejahteraan keluarga dan sebagai pengatur di dalam keluarganya, yang di antaranya mengatur masalah tata hubungan, tata grha, tata bogha, tata keuangan, tata busana, dan lain sebagainya.

B. Saran

Adapun saran yang dapat diajukan adalah, hendaknya seorang istri menjalankan swadharma dan kewajibannya dalam rumah tangga dengan baik agar terciptanya keluarga yang bahagia dan sejahtera yang berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa sesuai dengan tujuan utama perkawinan yaitu, Dharma, Artha, Kama, dan Praja.

Manajemen Pendidikan 2

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Sekolah adalah lembaga yang bersifat kompleks dan unik. Bersifat kompleks karena sekolah sebagai organisasi didalamnya terdapat berbagai dimensi yang satu sama lain saling berkaitan dan saling menentukan. Sedangkan sifat unik, menunjukkan bahwa sekolah sebagai organisasi memiliki ciri-ciri tertentu yang tidak dimiliki oleh organisasi-organisasi lain. Ciri-ciri yang menempatkan sekolah karakter tersendiri, dimana terjadi proses belajar mengajar, tempat terselenggaranya pembudayaan kehidupan umat manusia.

Karena sifatnya yang kompleks dan unik tersebutlah, sekolah sebagai organisasi memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi. Keberhasilan sekolah adalah keberhasilan kepala sekolah.

Kepala sekolah yang berhasil apabila mereka memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi yang kompleks dan unik, serta mampu melaksanakan peranan kepala sekolah sebagai seorang yang diberi tanggung jawab untuk memimpin sekolah.

Studi keberhasilan kepala sekolah menunjukkan bahwa kepala sekolah adalah seseorang yang menentukan titik pusat dan irama sekolah. Bahkan lebih jauh studi tersebut menyimpulkan bahwa keberhasilan sekolah adalah keberhasilan kepala sekolah, beberapa diantara kepala sekolah dilukiskan sebagai orang yang memiliki harapan tinggibagi para staf dan para siswa, kepala sekolah adalah mereka yang banyak mengetahui tugas-tugas mereka dan mereka yang menentukanirama bagi sekolah mereka.

Sesuai dengan ciri-ciri sekolah sebagai organisasi yang bersifat kompleks dan unik, tugas dan fungsi kepala sekolah seharusnya dilihat dari berbagai sudut pandang. Dari sisi tertentu kepala sekolah dapat dipandang sebagai penjabat formal, sedangkan dari sisi lain seorang kepala sekolah dapat berperan sebagai manager, sebagai pemimpin, sebagai pendidik dan tidak kalah penting seorang kepala sekolah juga berperan sebagai staf.

  1. Rumusan Masalah

Dari pemaparan diatas terdapat beberapa rumusan masalah yang hendak dikemukakan penulis antara lain :

Ø Apakah pengertian dari kepala sekolah dan kepemimpinan ?

Ø Bagaimanakah cara penyeleksian menjadi kepala sekolah ?

Ø Bagaimanakah bila seorang kepala sekolah diibaratkan sebagai penjabat formal, manager, pemimpin, pendidik dan sebagai staf ?

Ø Bagaimana hubungan kerja sama antara kepala sekolah dengan masyarakat luas ?

  1. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah sebagai berikut :

Ø Untuk mengetahui apa itu kepala sekolah dan kepemimpinan.

Ø Untuk mengetahui cara penyeleksian menjadi kepala sekolah.

Ø Untuk mengetahui kepala sekolah sebagai penjabat formal, manager, pemimpin, pendidik dan sebagai staf.

Ø Untuk mengetahui hubungan kerja sama antara kepala sekolah dengan masyarakat luas.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Kepala Sekolah dan Kepemimpinan

Kepala sekolah terdiri atas dua kata yakni ”kepala” dan ”sekolah”. kata kepala dapat diartikan sebagai ketua atau pemimpin dalam suatu organisasi atau sebuah lembaga. Sedangkan sekolah adalah sebuah lembaga dimana menjadi tempat menerima dan memberikan pelajaran. Dengan demikian secara sederhana kepala sekolah dapat didefinisikan sebagai seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah dimana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat dimana terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran. Sedangkan kepemimpinan adalah proses untuk mempengaruhi seseorang (didalam atau diluar organisasi) untuk mencapai tujuan yang diinginkan dimana seorang pemimpin mempunyai karakteristik khas yaitu meliputi fisik, mental, kepribadian, perilaku, karismatik, transaksional, dan transformasional.

  1. Seleksi Kepala Sekolah

Adapun proses seleksi untuk pemilihan kepala sekolah terdiri dari empat tahapan, yaitu :

    • Tahap awal

Adalah tahap dimana dilaksanakannya proses antara lain :

- identifikasi jabatan yang kosong,

- menentukan kriteria persyaratan calon untuk mengisi jabatn yang kosong,

- mengumumkan jabatan yang kosong kepada para calon,

- mengadakan perincian tugas dan tanggung jawab jabatan kepala sekolah yang kosong dan perlu diketahui oleh calon,

- menetukan persyaratan khusus yang diperlukan, sepeeti kemampuan berbahasa, memiliki hasil pelatihan dibidang luar biasa tentang siswa,

- mempersiapakan dokumen yang perlu diselesaikan oleh calaon seperti : catatan tentang pendidikan dan pekerjaan, penampilan dan keberhasilan masa lampau, rekomendasi dan data-data yang mendukung.

    • Tahap pra seleksi

Menetukan dan mengatur bagaimana kebijaksanaan atau mekanisme seleksi di laksanakan meliputi :

- memilih dan menetukan siapa yang memikirkan cara dan prosedur untuk ditugaskan dalam hal-hal yang berkaitan dengan proses seleksi tahap awal,

- ada jaminan bahwa kelompok staf / satuan tugas yang akan ditugaskan benar-benar mampu melakukan penafsiran dan pemikiran data calon,

- bagaimana mengaitkan dan mengintegrasikan kualifikasi calon denga spesifikasi jabatan kepala sekolah yang akan diisi,

- menyaring calaon yang berkualitas unggul,

- memilih calon terpilih untuk ditetapkan, dan

- mempersipakan daftar calaon yang memenuhi syarat.

    • Tahap seleksi

Salah satu mata rantai kegiatan seleksi ialah pencocokan atau penintegrasian antara spesifikasi jabatan kepala sekolah yang harus diisi dengan kualifikasi calon.

    • Tahap sesudah seleksi selesai

Dalam tahapan ini ada dua hal yang penting, yaitu :

- calon-calon yang tidak memenuhi persyaratan atau yang tidak diterima, dan

- calon-calon yang dapat diterima untuk diangkat menjadi kepala sekolah,

- dibuat daftar nominasi calon, lengkap dengan dokumen serta proses dikeluarkannya surat keputusan pengangkatan dan penempatan.

  1. Kepala Sekolah Sebagai Penjabat Formal, Manager, Pemimpin, Pendidik, dan Staf

Didalam lingkungan organisasi, kepemimpinan terjadi melalui dua bentuk, yaitu : kepemimpinan formal (formal leadership) dan kepemimpinan informal (informal leadership). Kepemimpinan formal terjadi apabila dilingkungan organisasi jabatan otoritas formal dalam organisasi tersebut diisi oleh orang-orang yang ditunjuk atau dipilih melalui proses seleksi. Sedangkan kepemimpinan informal terjadi dimana kedudukan pemimpin dalam suatu organisasi diisi oleh orang-orang yang muncul dan berpengaruh terhadap orang lain karena kecakapan khusus atau berbagai sumber yang dimilikinya dirasa mampu memecahkan persoalan organisasiserta memenuhi kebutuhan dari anggota organisasi yang bersangkutan.

Kepala sekolah adalah jabatan pemimpin yang tidak bisa diisi oleh orang-orang tanpa didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan. Siapapun yang diangkat menjadi kepala sekolah harus ditentukan melalui prosedur serta persyaratan-persyaratan tertentu seperti : latar belakang pendidikan, pengalaman, usia, pangkat dan integritas.

Oleh sebab itu kepala sekolah pada hakikatnya adalah penjabat formal, sebab pengangkatanya melalui proses dan prosedur yang didasarkan atas peraturan yang berlaku.

Disamping itu kepala sekolah juga diibaratkan sebagai seorang manager dimana ada delapan macam fungsi seorang manager yang perlu dilaksanakan dalam suatu organisasi yaitu bahwa para manager :

1. bekerja dengan, dan melalui orang lain,

2. bertanggung jawab dan mempertanggung jawabkan,

3. dengan waktu dan sumber yang terbatas mampu menghadapi berbagai persoalan,

4. berpikir secara realistik dan konseptual,

5. sebagai juru penengah,

6. sebagai seorang politisi,

7. sebagai seorang diplomat, dan

8. pengambilan keputusan yang sulit.

Kedelapan fungsi manager tersebut tidak hanya berlaku bagi kepala sekolah, tetapi berlaku bagi seluruh manager dari setiap organisasi. Walaupun pada pelaksanaannya sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor SDM, seperti para guru, staf, siswa dan orang tua siswa itu sendiri, dana, sarana serta suasana dan faktor lingkungan dimana sekolah itu berada.

Selain sebagai seorang manager kepala sekolah juga dituntut untuk memiliki jiwa atau sifat kepemimpinan. Dimana sebagai seorang pemimpin seharusnya dalam praktek sehari-hari selalu berusaha memperhatikan dan mempraktekan fungsi dari kepemimpinan itu sendiri didalam kehidupan sekolah. Dalam kehidupan sehari-hari kepala sekolah akan dihadapkan sikap para guru, staf, dan para siswa yang mempunyai latar belakang kehidupan, kepentingan serta tingkat sosial budaya yang berbeda sehingga tidak mustahil terjadi konflik antar individu bahkan antar kelompok. Dalam menghadapi hal semacam itu kepala sekolah harus bertindak arif, bijaksana, adil, tidak ada pihak yang dikalahkan atau dianak emaskan. Dengan kata lain seorang kepala sekolah harus dapat memperlakukan sama terhadap orang-orang yang menjadi bawahannya, sehingga tidak tidak terjadi deskriminasi tetapi dapat menciptakan semangat kebersamaan.

Kepala sekolah juga seharusnya sering memberikan saran serta masukan kepada bawahannya dalam melaksanakan tugas sehingga dapat memelihara bahkan meningkatkan semangat, rela berkorban, rasa kebersamaan dalam melaksanakan tugasnya masing-masing.

Keberhasilan suatu sekolah ditentukan juga oleh kepala sekolahnya sendiri dimana disini kepala sekolah berperan sebagai pendidik dan menjadi sumber motivasi yang kuat karena sikap mental, moral, kondisi fisik yang sehat dan energik serta apresiasi dan persuasi yang positif yang patut ditiru yang ditunjukkan oleh kepala sekolah itu sendiri serta turut serta melibatkan organisasi orang tua siswa, organisasi siswa dan organisasi guru dalam menjalankan kepemimpinannya.

Salah satu tugas yang paling penting dalam kepala sekolah ialah bahwa mampu menempatkan dirinya sebagai seorang staf yang ditunjukkan da diwujudkan dalam perilaku dan perbuatan, macam-macam persyaratan pemimpin sebagai staf, yang mencakup butir-butir nilai sebagai berikut :

- memiliki kualitas umum kepemimpinan,

- memiliki persyaratan khusus kepemimpinan,

- menguasai tehnik pengendalian,

- pandai menguasai diri,

- taat pada norma, etika, dan hierarki organisasi,

- mampu menciptakan suasana keterbukaan,

- bersifat terbuka terhadap kritik,

- menguasai situasi dan kondisi bawahan,

- kemauan bekerja keras, dan

- selalu memiliki optimisme.

  1. Hubungan Kepala Sekolah Dengan Masyarakat Luas

Seorang kepala sekolah merupakan mata rantai penting diantara hubungan sekolah setempat dengan masyarakat luas. Oleh sebab itu apabila proses mengajar belajar akan ditingkatkan, maka dukungan intelektual, teknis dan material harus dimanfaatkat secara tepat. Demikian hubungan dengan masyarakat yang memberikan dukungan dalam pengembangan program perbaikan sekolah, perlu diusahakan secara terus-menerus.

Ada dua hal penting yang perlu dilakukan oleh kepala sekolah, yaitu :bagaimana memperoleh dukungan perbaikan dari masyarakat dan yang kedua, bagaimana memafaatkan sumber-sumber daya yang diperoleh secara tepat, sehingga mampu meningkatkan proses mengajar dan belajar.

1. Memperoleh Dukungan Perbaikan

Dalam rangka untuk mewujudkan satu perubahan penting dalam pendidikan, seorang kepala sekolah memerlukan dukungan banyak sumber-sumber daya dari masyarakat dimana sekolah itu berada.

Dukungan yang diperlukan meliputi :

a). Personil, seperti tenaga ahli, konsultan, guru, orang tua, pengawas dan sebagainya.

b). Dana yang diperlukan untuk mendukung tersedianya fasilitas, perlengtkapan dan bahan-bahan pengajaran yang lain.

c). Dukungan berupa informasi, lembaga dan sikap politis.

Agar dukungan yang diperoleh tersebut dapat didaya gunakan dengan tepat, maka diharapkan :

a). Seorang kepala sekolah harus mampu menunjukkan rasionalitas usaha perbaikan tercapainya tujuan organisasi dan harapan para individu

b). Seorang kepala sekolah harus menaruh perhatian terhadap sejumlah bentuk dan arus informasi, sehingga dapat tercipta komunikasi dua arah.

c). Kepala sekolah mampu membangun saluran komunikasi responsif yang mengarahkan arus informasi kebawah, paralel, dan keatas dilingkungan sekolah, mampu keluar dilingkungan masyarakat yang lebih luas.

d). Kepala sekolah perlu mengetahui konteks instituasional / masalah pembaruan dan mendayagunakan kepemimpinannya dalam mengubah organisasi sekolah dari organisasi yang birokratis dan mekanistik menjadi organisasi yang dinamis dan organik.

e). Seorang kepala sekolah harus mempunyai keterampilan dalam melakukan analisis terhadap berbagai nilai, harapan dan perilaku dari individu-individu sesuai dengan keanggotaanya dimasyarakat, masyarakat instrumental, etnik dan masyarakat ideologis

2. Penggunaan Sumber Daya Eksternal

Seorang kepala sekolah bertanggung jawab membangun hubungan kerja sama yang tepat antara sebuah sekolah dengan aparat-aparat pembaharuan pendidikan seperti perguruan tingi, pusat-pusat riset dan pengembangan, dan organisasi-organisasi yang bertanggung jawab dalampengelolaan produksi dan desiminasi pengetahuan.

Dalam menggunakan sumber-sumber tersebut kepala sekolah bertanggung jawab memberikan penjelasan betapa pentingnya sumber daya manusia, orientasi pelatihan dan konsultasi, interaksi face to face, seringnya hubungan kerja sama dalam rangka melaksanakan perbaikan secra terprogram.

Face to face contact dan komunkasi dua arah adalah penting didalam usaha memperbaiki pendidikan.

Ada beberapa keuntungan hubungan face to face :

- Mudah dilaksanakan (fasilitated)

- Feed back antara pengirim dan penerima berita (sender dan reciever) dapat terselenggara dengan serta-merta (immediate)

- Kemurnian atau kejelasan misi (massage clarify) adalah tinggi.

Hubungan dengan aparat luar tidak hanya membantu, tetapi menciptakan bantuan penting terhadap masyarakat pendidikan yang lebih luas. Secara singkat seorang kepala sekolah merupakan mata rantai antara sekolah setempat dengan masyarakat pendidikan yang lebih besar. Keberhasilan antara guru, siswa dengan kelompok-kelompok masyarakat yang menaruh perhatian yang tinggi pada perbaikan program pendidikan bergantung pada kepemimpinan seorang kepala sekolah yang menjembatani kesenjangan antara teori dan praktek. Kepemimpinan kepala sekolah berperan dalam gubungan kerja terhadap masyarakat yang lebih besar, dalam memperoleh dukungan sumber daya manusia, finansial, informasi lembaga dan dukungan politik dalam rangka perbaikan dan perubahan pendidikan.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Sebagai kepala sekolah dimana memimpin sekolahnya mempunyai tanggung jawab yang cukup besar, untuk menjadi kepala sekolah dibutuhkan seleksi yang begitu ketat yang bertujuan untuk mencari seorang kepala sekolah yang berwawasan tinggi dan mempunyai kreativitas untuk memajukan sekolah yang dipimpinnya.

Didalam hal ini kepala sekolah juga dituntut untuk bisa menempatkan dirinya sesuai dengan karakter dan tingkah laku dari para bawahannya, seperti contoh bahwa seorang kepala sekolah itu diibaratkan sebagai penjabat formal dimana dia harus memiliki jiwa kepemimpinan yang berkarismatik sehingga bawahanya segan dan menghormati, disamping sebagi penjabat formal seorang kepala sekolah juga diibaratkan sebagai manager yang mengatur bawahanya dan memberikan semangat serta motivasi dalam bekerja dan menciptakan suasana yang harmonis antara pegawai, guru serta kepada para siswa.

Disamping itu pula seorang kepala sekolah juga harus membina hubungan yang baik dengan masyarakat ditempat sekolah yang dipimpinnya sehingga tercipta suatu hubungan saling memiliki serta masyarakat juga bisa membantu kepala sekolah didalam menjalankan suatu program pendidikan yang hasilnya dinikmati oleh semua pihak baik itu kepala sekolah, guru, staf, siswa, dan masyarakat itu sendiri.

  1. Saran

Dari pemaparan diatas adapun saran yang hendak disampaikan penulis adalah sebagai berikut :

Ø Seorang kepala sekolah harus menjalin suatu komunikasi yang baik antara guru, satf, serta siawanya sendiri,

Ø Kepala sekolah juga haruslah bisa bersikap bijaksana agar tercipta kondisi yang kondusif serta dapat memberikan motivasi dan masukkan kepada bawahanya untuk meningkatkan atau menciptakan semangat kerja serta rasa kebersamaan,

Ø Seorang kepala sekolah juga dituntun untuk memberikan suatu contoh yang baik sehingga tidak merusak moral dari para guru, staf, serta anak didiknya.

Bila hal ini mampu dilaksanakan maka sekolah yang dipimpinya akan mengalami kemajuan yang pesat dan akan menjadi salah satu sekolah yang terfavorit ditempatnya.

DAFTAR PUSTAKA

Wahjosumidjo. 2003. Kepemimpinan Kepala Sekolah: tinjauan teoritik dan permasalahannya. RajaGrafindo Persada. Jakarta.

Rivai, Veithzal. 2006. Kepemimpinan dan perilaku organisasi. RajaGrafindo Persada. Jakarta.

Kamis, 13 Januari 2011

PERANAN GURU PAMONG DI SDN 04 MATARAM DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN MAHASISWA PPL STAHN GDE PUDJA MATARA

PROPOSAL PENELITIAN SKRIPSI

PERANAN GURU PAMONG DI SDN 04 MATARAM DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN MAHASISWA PPL STAHN GDE PUDJA MATARAM

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Dalam Menyelesaikan Program

Sarjana Agama (SI) Jurusan Pendidikan Agama

OLEH :

WAYAN ARDANE

NIM. 061.111.51

DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA

SEKOLAH TINGGI AGAMA HINDU NEGERI GDE PUDJA MATARAM

2010

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di dalam masyarakat, dari yang paling terbelakang sampai yang paling maju, guru memegang peranan penting. Hampir tanpa kecuali, guru yang merupakan satu diantara pembentuk-pembentuk utama calon warga masyarakat. Memang benar, ada masyarakat yang mengakui pentingnya peranan guru itu dengan cara yang lebih kongkret daripada masyarakat yang lain. Namun demikian, masih ada masyarakat yang menyangsikan besarnya tanggung jawab seorang guru, termasuk pula masyarakat yang sering menggaji guru lebih rendah daripada yang diinginkan. Banyak orang tua yang kadang-kadang merasa cemas akan kemampuan guru anak-anak mereka itu sewaktu menyaksikan anak-anak mereka berangkat ke sekolah. Dan guru-guru, setelah beberapa bulan pertama mengajar, pada umumnya sudah menyadari betapa besar pengaruh-pengaruh terpendam yang mereka miliki terhadap pembentukan akal budi siswa-siswa mereka. Sayang sekali, kesadaran umum akan besarnya tanggung jawab seorang guru itu belumlah terwujud dalam usaha mereka untuk mengajar dengan pertimbangan-pertimbangan yang seksama.

Tidaklah mengherankan jika pengetahuan para guru tentang proses instruksional relatif masih kurang. Sebagian besar telah dilatih dengan cara-cara yang mendekati mistik. Lembaga pendidikan guru pada umumnya memupuk perkembangan perilaku meniru pada siswa-siswanya. Dari beberapa mata pelajaran wajib yang diajarkan sebelum praktek mengajar, calon-calon guru itu memperoleh seperangkat asas yang muskil (misalnya asas ”Reinforcement yang sebentar-sebentar diberikan pada suatu respon akan mengawetkan respon tersebut”) atau diberikan sejumlah petunjuk dan kadang-kadang beberapa anjuran yang naif mengenai pengajaran di kelas (misalnya ”Bertindaklah secara konsisten”). Kemudian si calon yang boleh dikatakan belum siap itu, di terjunkan ke praktek mengajar. Disana ia akan mempelajari proses instruksional dari guru pembimbing praktek yang berpengalaman.

Sayang sekali, pengalaman praktek mengajar biasanya tidak menolong si calon guru mempelajari bagaimana mengajar, ini berbeda dengan yang telah menjadi keyakinan kuat dari banyak pengmat. Sebenarnya, si calon guru hanya belajar tentang bagaimana ”menghabiskan jatah waktunya”. Ia menyukai pengalaman itu sebab ia merasa memperoleh beberapa keterampilan mengajar yang diwajibkan. Tetapi yang sering dipelajari oleh si calon guru hanyalah kemampuan membeo si guru pembimbing. Karena ukuran untuk menilai guru praktek tidak tegas, maka seorang guru praktek yang bijaksana memilih untuk meniru saja gaya dan cara dari guru pembimbingnya. Bagaimanapun juga, toh guru pembimbinglah yang memberikan nilai praktek yang sangat penting artinya itu. Guru pembimbing praktek manakah yang tidak akan memberikan nilai tinggi pada fotokopi dari dirinya sendiri? Jadi, tanpa adanya kriteria yang pasti sebagai pedoman, baik guru praktek menyimpang dari citra guru pembimbingnya, makin tinggilah nilai yang diperolehnya.

Tentu saja, peniruan ini tidak berlaku disembarang tempat. Namun demikian, terlampau banyak contoh yang menunjukan adanya guru-guru yang memasuki kelasnya hanya dengan bekal sekumpulan prosedur pinjaman. Bahkan sesudah beberapa tahun pun sebagai guru, situasi tersebut tidak banyak mengalami perbaikan. Guru baru sering dinilai oleh adsminitratornya dan supervisor sekolah yang yang pada umumnya mengunakan kriteria yang tidak jelas dan tidak tegas. Ia disalahkan karena cara mengajarnya tidak seperti cara mereka mengajar dahulu. Ukuran yang tidak jelas untuk kemampuan-kemampuan mengajar akan membingungkan siapa saja yang berkepentingan atas pengajaran yang baik, dan atas cara bagaimana pengajaran yang demikian itu dikembangkan. Maka tidaklah begitu mengherankan bila banyak guru yang memandang proses instruksional sesuatu kejadian yang mudah, yang dapat dilakukan secara intuitif saja dan tidak perlu dijadikan objek penelitian yang seksama.

Telah puluhan tahun kita memberikan keterampilan-keterampilan mengajar melalui proses yang lebih menyerupai ”penyembuhan magis”. Guru-guru yang sensitif dapat memperbaiki keterampilan mereka berkat pengalaman mereka yang terkumpul selama bertahun-tahun tetapi sayang sekali, banyak yang lain yang hanya mengulang-ulang apa yang dilakukannya pada tahun pertama. Mereka sama sekali tidak memetik apa pun daripadanya.

.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diungkapkan maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: Bagaimana peranan guru pamong dalam meningkatkan kualitas pembelajaran mahasiswa PPL STAHN Gde Pudja Mataram?

1.3 Tujuan Penilitian

Tujuan dari penelitian ini untuk menjelaskan bagaimana besar peranan guru pamong dalam meningkatkan kualitas pembelajaran mahasiswa PPL STAHN Gde Pudja Mataram.

1.4 Kerangka Berfikir

Menurut Undang-Undang Guru dan Dosen, seorang guru dikatakan berkompeten apabila menguasai empat kompetensi dasar yaitu kompetensi pedagonik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Dalam proses belajar mengajar kompetensi tersebut menjadi jaminan untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang baik dan bermutu.

Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan formal

dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Dalam proses belajar mengajar sebagian hasil belajar ditentukan oleh peranan guru. Guru yang berkompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan mampu mengelola proses belajar mengajar. Selama pelaksanan PPL guru pamonglah yang lebih dominan dan yang lebih sering berinteraksi dengan mahasiswa praktikan, sehingga guru pamong yang lebih sesuai untuk memberi tanggapan mengenai pelaksanaan PPL mahasiswa praktikan.



Kamis, 23 Desember 2010

KEPEMIMPINAN DEMOKRATISASI DI INDONESIA

OLEH WAYAN ARDANE



A. Pengertian Pemimpin, Kepemimpinan dan Demokratis

  1. Pemimpin

Pemimpin adalah inti dari manajemen. Ini berarti bahwa manajemen akan tercapai tujuannya jika ada pemimpin. Kepemimpinan hanya dapat dilaksanakan oleh seorang pemimpin. Seorang pemimpin adalah seseorang yang mempunyai keahlian memimpin, mempunyai kemampuan mempengaruhi pendirian/pendapat orang atau sekelompok orang tanpa menanyakan alasan-alasannya. Seorang pemimpin adalah seseorang yang aktif membuat rencana-rencana, mengkoordinasi, melakukan percobaan dan memimpin pekerjaan untuk mencapai tujuan bersama-sama (Panji Anogara, Page 23).

Ada dua pilihan bila kita hidup dalam perkumpulan yaitu sebagai pemimpin dan sebagai yang dipimpin.

2. Kepemimpinan

Ada beberapa definisi yang menjelaskan tentang pengertian kepemimpinan, antara lain:

*Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, dalam situasi tertentu dan langsung melalui proses komunikasi untuk mencapai satu atau beberapa tujuan tertentu (Tannebaum, Weschler and Nassarik, 1961, 24).

*Kepemimpinan adalah sikap pribadi, yang memimpin pelaksanaan aktivitas untuk mencapai tujuan yang diinginkan. (Shared Goal, Hemhiel & Coons, 1957, 7).

*Kepemimpinan adalah suatu proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama (Rauch & Behling, 1984, 46).

*Kepemimpinan adalah kemampuan seni atau tehnik untuk membuat sebuah kelompok atau orang mengikuti dan menaati segala keinginannya.

*Kepemimpinan adalah suatu proses yang memberi arti (penuh arti kepemimpinan) pada kerjasama dan dihasilkan dengan kemauan untuk memimpin dalam mencapai tujuan (Jacobs & Jacques, 1990, 281).

Banyak definisi kepemimpinan yang menggambarkan asumsi bahwa kepemimpinan dihubungkan dengan proses mempengaruhi orang baik individu maupun masyarakat. Dalam kasus ini, dengan sengaja mempengaruhi dari orang ke orang lain dalam susunan aktivitasnya dan hubungan dalam kelompok atau organisasi. John C. Maxwell mengatakan bahwa inti kepemimpinan adalah mempengaruhi atau mendapatkan pengikut.

  1. Demokratis

Demokrasi atau demokratis adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warganegara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.

Menurut John Dewey (1935), demokrasi bukan hanya sekedar kebebasan dalam tindakan, namun terutama kebebasan kecerdasan (freedom of intelligence). Dewey mengatakan bahwa : “unless freedom of action (is guided) by intelligence, its manifestation is almost sure to result in confusion and disorder “(Dewey, 1935, dalam Wraga, 1998)

Oleh karena itu komitmen demokrasi untuk membebasan kecerdasan lebih fundamental daripada kebebasan dalam bertindak.

B. Kepemimpinan Demokratis

Ada beberapa pengertian dari Kepemimpinan, antara lain:

  1. Proses mempengaruhi sekelompok orang sehingga mau bekerja dengan sungguh- sungguh untuk meraih tujuan kelompok [ Koontz & O’donnel]
  2. Kemampuan untuk mengajak orang lain mencapai tujuan yang sudah ditentukan dengan penuh semangat [ Davis , 1977]
  3. Mempengaruhi orang lain untuk lebih berusaha mengarahkan tenaga, dalam tugasnya atau merubah tingkah laku mereka [Wexley & Yuki, 1977]
  4. Pada dasarnya merupakan pola hubungan antara individu-individu yang menggunakan wewenang dan pengaruhnya terhadap kelompok orang agar bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan [Fiedler, 1967].

Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya pemimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya.

. Tipe kepemimpinan demokratis (democratis leadership). Pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha bertanggung jawab tentang terlaksananya tujuan bersama. Agar setiap anggota turut bertanggung jawab, maka seluruh anggota ikut serta dalam segala kegiatan, perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan, dan penilaian. Setiap anggota dianggap sebagai potensi yang berharga dalam usahan pencapaian tujuan.

Pemimpin yang demokratis menganggap dirinya sebagai bagian dari kelompoknya dan bersama-sama dengan kelompoknya berusaha bertanggung jawab tentang pelaksanaan tujuannya. Agar setiap anggota turut serta dalam setiap kegiatan-kegiatan, perencanaan, penyelenggaraan, pengawasan dan penilaian. Setiap anggota dianggap sebagai potensi yang berharga dalam usaha pencapaian tujuan yang diinginkan.

Kinerja kepemimpinan sangat tergantung pada organisasi maupun gaya kepemimpinan. Apa yang bisa dikatakan adalah bahwa pemimpin bisa efektif ke dalam situasi tertentu dan tidak efektif pada situasi yang lain. Usaha untuk meningkatkan efektifitas organisasi atau kelompok harus dimulai dari belajar, tidak hanya bagaimana melatih pemimpin secara efektif, tetapi juga membangun lingkungan organisasi dimana seorang pemimpin bisa bekerja dengan baik. Gaya kepemimpinan adalah cara yang digunakan dalam proses kepemimpinan yang diimplementasikan dalam perilaku kepemimpinan seseorang untuk mempengaruhi orang lain untuk bertindak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Gaya kepemimpinan juga dapat didefinisikan sebagai pola tingkah laku yang dirancang untuk mengintegrasikan tujuan organisasi dengan tujuan individu untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Kepemimpinan Demokratis merupakan salah satu tipe dari gaya kepemimpinan. Kepemimpinan demokratis ditandai dengan adanya suatu struktur yang pengembangannya menggunakan pendekatan pengambilan keputusan yang kooperatif. Dibawah kepemimpinan demokratis bawahan cenderung bermoral tinggi, dapat bekerja sama, mengutamakan mutu kerja dan dapat mengarahkan diri sendiri (Rivai, 2006, p. 61).

Menurut Robbins dan Coulter (2002), gaya kepemimpinan demokratis mendeskripsikan pemimpin yang cenderung mengikutsertakan karyawan dalam pengambilan keputusan, mendelegasikan kekuasaan, mendorong partisipasi karyawan dalam menentukan bagaimana metode kerja dan tujuan yang ingin dicapai, dan memandang umpan balik sebagai suatu kesempatan untuk melatih karyawan(p. 460).

Jerris (1999) menyatakan bahwa gaya kepemimpinan yang menghargai kemampuan karyawan untuk mendistribusikan knowledge dan
kreativitas untuk meningkatkan servis, mengembangkan usaha, dan menghasilkan banyak keuntungan dapat menjadi motivator bagi karyawan dalam bekerja (p.203).
Ciri-ciri gaya kepemimpinan demokratis (Sukanto, 1987, pp. 196-198):

o Semua kebijaksanaan terjadi pada kelompok diskusi dan keputusan diambil dengan dorongan dan bantuan dari pemimpin.

o Kegiatan-kegiatan didiskusikan, langkah-langkah umum untuk tujuan kelompok dibuat, dan jika dibutuhkan petunjuk-petunjuk teknis pemimpin menyarankan dua atau lebih alternatif prosedur yang dapat dipilih.

o Para anggota bebas bekerja dengan siapa saja yang mereka pilih dan pembagian tugas ditentukan oleh kelompok.

Lebih lanjut ciri-ciri gaya kepemimpinan demokratis (Handoko dan Reksohadiprodjo, 1997, p. 304):

v Lebih memperhatikan bawahan untuk mencapai tujuan organisasi.

v Menekankan dua hal yaitu bawahan dan tugas.

v Pemimpin adalah obyektif atau fact-minded dalam pujian dan kecamannya dan mencoba menjadi seorang anggota kelompok biasa dalam jiwa dan semangat tanpa melakukan banyak pekerjaan.

C. Hakikat Pemimpin

Pemimpin pada hakikatnya adalah seseorang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan.

Dalam kegiatannya bahwa pemimpin memiliki kekuasaan untuk mengerahkan dan mempengaruhi bawahannya sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan. Pada tahap pemberian tugas pemimpin harus memberikan suara arahan dan bimbingan yang jelas, agar bawahan dalam melaksanakan tugasnya dapat dengan mudah dan hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Dengan demikian kepemimpinan mencakup distribusi kekuasaan yang tidak sama diantara pemimpin dan anggotanya. Pemimpin mempunyai wewenang untuk mengarahkan anggota dan juga dapat memberikan pengaruh, dengan kata lain para pemimpin tidak hanya dapat memerintah bawahan apa yang harus dilakukan, tetapi juga dapat mempengaruhi bagaimana bawahannya melaksanakan perintahnya. Sehingga terjalin suatu hubungan social yang saling berinteraksi antara pemimpin dengan bawahan, yang akhirnya terjadi suatu hubungan timbale balik. Oleh sebab itu bahwa pemimpin diharapkan memiliki kemampuan dalam menjalankan kepemimpinannya, karena apabila tidak memiliki kemampuan untuk memimpin, maka tujuan yang ingin dicapai tidak akan dapat tercapai secara maksimal.

Ajaran Kepemimpinan dalam Weda:

  1. Seorang pemimpin berasal dari warga negara (Yajur Veda.XX.9)
  2. Warga negara yang merupakan satu kesatuan dalam berbangsa adalah anggota badan seorang pemimpin (Yajur Veda XX.8)
  3. Seorang pemimpin melindungi warganya tanpa menyakiti mereka (Yajur Veda XIII.30).
  4. Kami memilih seorang pemimpin untuk memperoleh makanan dan mengentaskan kemiskinan dan kesejahtraan yang berlimpah (Yajur Veda X.21)
  5. Seorang pemimpin atas rahmatnya melindungi masyarakatnya (Yajur Veda XXX.5)

6. Seorang pemimpin tidak pernah sedih, ia senantiasa berbuat jujur (Reg.Veda. V.34.7)

7. Seorang pemimpin membuat kita sejahtera dan melindungi cendikiwannya (Reg Veda I.54.11)

8. Oh pemimpin! Usahakan semua wargamu bahagia, berikan kesejahteraan dan tolonglah mereka (Sama Veda 971)

9. Kami semua patuh dan taat kepada semua peraturan pemimpin/pemerintah (Reg Veda VIII.25.16)

10. Oh Pemimpin! Bertindaklah untuk kesejahtraan masyarakatmu dan keabadian namamu (Atharwa XIII.1.34)