Laman

Kamis, 23 Desember 2010

Skripsi Ajuan

PROPOSAL PENELITIAN SKRIPSI

PERANAN GURU PAMONG DI SDN 04 MATARAM DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN MAHASISWA PPL STAHN GDE PUDJA MATARAM

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Dalam Menyelesaikan Program

Sarjana Agama (SI) Jurusan Pendidikan Agama

OLEH :

WAYAN ARDANE

NIM. 061.111.51

DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA

SEKOLAH TINGGI AGAMA HINDU NEGERI GDE PUDJA MATARAM

2010

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di dalam masyarakat, dari yang paling terbelakang sampai yang paling maju, guru memegang peranan penting. Hampir tanpa kecuali, guru yang merupakan satu diantara pembentuk-pembentuk utama calon warga masyarakat. Memang benar, ada masyarakat yang mengakui pentingnya peranan guru itu dengan cara yang lebih kongkret daripada masyarakat yang lain. Namun demikian, masih ada masyarakat yang menyangsikan besarnya tanggung jawab seorang guru, termasuk pula masyarakat yang sering menggaji guru lebih rendah daripada yang diinginkan. Banyak orang tua yang kadang-kadang merasa cemas akan kemampuan guru anak-anak mereka itu sewaktu menyaksikan anak-anak mereka berangkat ke sekolah. Dan guru-guru, setelah beberapa bulan pertama mengajar, pada umumnya sudah menyadari betapa besar pengaruh-pengaruh terpendam yang mereka miliki terhadap pembentukan akal budi siswa-siswa mereka. Sayang sekali, kesadaran umum akan besarnya tanggung jawab seorang guru itu belumlah terwujud dalam usaha mereka untuk mengajar dengan pertimbangan-pertimbangan yang seksama.

Tidaklah mengherankan jika pengetahuan para guru tentang proses instruksional relatif masih kurang. Sebagian besar telah dilatih dengan cara-cara yang mendekati mistik. Lembaga pendidikan guru pada umumnya memupuk perkembangan perilaku meniru pada siswa-siswanya. Dari beberapa mata pelajaran wajib yang diajarkan sebelum praktek mengajar, calon-calon guru itu memperoleh seperangkat asas yang muskil (misalnya asas ”Reinforcement yang sebentar-sebentar diberikan pada suatu respon akan mengawetkan respon tersebut”) atau diberikan sejumlah petunjuk dan kadang-kadang beberapa anjuran yang naif mengenai pengajaran di kelas (misalnya ”Bertindaklah secara konsisten”). Kemudian si calon yang boleh dikatakan belum siap itu, di terjunkan ke praktek mengajar. Disana ia akan mempelajari proses instruksional dari guru pembimbing praktek yang berpengalaman.

Sayang sekali, pengalaman praktek mengajar biasanya tidak menolong si calon guru mempelajari bagaimana mengajar, ini berbeda dengan yang telah menjadi keyakinan kuat dari banyak pengmat. Sebenarnya, si calon guru hanya belajar tentang bagaimana ”menghabiskan jatah waktunya”. Ia menyukai pengalaman itu sebab ia merasa memperoleh beberapa keterampilan mengajar yang diwajibkan. Tetapi yang sering dipelajari oleh si calon guru hanyalah kemampuan membeo si guru pembimbing. Karena ukuran untuk menilai guru praktek tidak tegas, maka seorang guru praktek yang bijaksana memilih untuk meniru saja gaya dan cara dari guru pembimbingnya. Bagaimanapun juga, toh guru pembimbinglah yang memberikan nilai praktek yang sangat penting artinya itu. Guru pembimbing praktek manakah yang tidak akan memberikan nilai tinggi pada fotokopi dari dirinya sendiri? Jadi, tanpa adanya kriteria yang pasti sebagai pedoman, baik guru praktek menyimpang dari citra guru pembimbingnya, makin tinggilah nilai yang diperolehnya.

Tentu saja, peniruan ini tidak berlaku disembarang tempat. Namun demikian, terlampau banyak contoh yang menunjukan adanya guru-guru yang memasuki kelasnya hanya dengan bekal sekumpulan prosedur pinjaman. Bahkan sesudah beberapa tahun pun sebagai guru, situasi tersebut tidak banyak mengalami perbaikan. Guru baru sering dinilai oleh adsminitratornya dan supervisor sekolah yang yang pada umumnya mengunakan kriteria yang tidak jelas dan tidak tegas. Ia disalahkan karena cara mengajarnya tidak seperti cara mereka mengajar dahulu. Ukuran yang tidak jelas untuk kemampuan-kemampuan mengajar akan membingungkan siapa saja yang berkepentingan atas pengajaran yang baik, dan atas cara bagaimana pengajaran yang demikian itu dikembangkan. Maka tidaklah begitu mengherankan bila banyak guru yang memandang proses instruksional sesuatu kejadian yang mudah, yang dapat dilakukan secara intuitif saja dan tidak perlu dijadikan objek penelitian yang seksama.

Telah puluhan tahun kita memberikan keterampilan-keterampilan mengajar melalui proses yang lebih menyerupai ”penyembuhan magis”. Guru-guru yang sensitif dapat memperbaiki keterampilan mereka berkat pengalaman mereka yang terkumpul selama bertahun-tahun tetapi sayang sekali, banyak yang lain yang hanya mengulang-ulang apa yang dilakukannya pada tahun pertama. Mereka sama sekali tidak memetik apa pun daripadanya.

.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diungkapkan maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: Bagaimana peranan guru pamong dalam meningkatkan kualitas pembelajaran mahasiswa PPL STAHN Gde Pudja Mataram?

1.3 Tujuan Penilitian

Tujuan dari penelitian ini untuk menjelaskan bagaimana besar peranan guru pamong dalam meningkatkan kualitas pembelajaran mahasiswa PPL STAHN Gde Pudja Mataram.

1.4 Kerangka Berfikir

Menurut Undang-Undang Guru dan Dosen, seorang guru dikatakan berkompeten apabila menguasai empat kompetensi dasar yaitu kompetensi pedagonik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Dalam proses belajar mengajar kompetensi tersebut menjadi jaminan untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang baik dan bermutu.

Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan formal

dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Dalam proses belajar mengajar sebagian hasil belajar ditentukan oleh peranan guru. Guru yang berkompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan mampu mengelola proses belajar mengajar. Selama pelaksanan PPL guru pamonglah yang lebih dominan dan yang lebih sering berinteraksi dengan mahasiswa praktikan, sehingga guru pamong yang lebih sesuai untuk memberi tanggapan mengenai pelaksanaan PPL mahasiswa praktikan.



BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di era teknologi informasi saat ini manajemen dan pengelolaan lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah (SD, SMP, SMA) dituntut untuk dapat memberikan layanan yang terbaik bagi siswa maupun kepada masyarakat yang menjadi stekholder dari Lembaga atau sekolah yang bersangkutan. Dalam konteks itu layanan yang diberikan oleh Lembaga atau sekolah tidak layak dikelola secara parsial tetapi dikelola dengan didesain berbasiskan ilmu pengetahuan sehingga menghasilkan pelayanan yang bermutu dan dilayani oleh sumber daya manusia profesional yaitu orang yang siap melayani kebutuhan siswa (anggota masyarakat).

Sangat disadari bahwa di Lembaga Pendidikan seperti sekolah dewasa ini memperlihatkan kecendrungan siswa untuk mendapatkan pelayanan yang baik, yaitu yang lebih efektif, efesien, dan ekonomis. Untuk itu dibutuhkan Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan (MMTP) yaitu suatu pendekatan dalam usaha memaksimalkan daya saing melalui perbaikan terus menerus atau jasa, manusia, produk dan lingkungan, (Usman, 2006:458). Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan menitik beratkan pada proses dan didasarkan pada prinsip-prinsip manajemen pelayanan. Adapun peran manajemen dalam memotivasi karyawan pada pos-pos pelayanan yaitu dengan 1) Memberikan kewenangan pada lapisan struktur bawah untuk mengambil keputusan tertentu yang terkait dengan kebutuhan pelayanan. 2) Desain ruangan disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan. 3) Karyawan yang berprestasi diberikan penghargaan demikian sebaliknya. 4) Kegiatan selalu dipantau, diukur dan di evaluasi.

Dalam mengklasifikasikan konsep teoritis manajemen pelayanan dalam praktek diperlukan adanya keserasian, toleransi dan terciptanya kerjasama yang baik pada seluruh komponen organisasi yang mencakup civitas akademika, guru, pegawai, dan siswa, karena kualitas pelayanan yang baik menurut sikap dan perilaku yang baik dari semua karyawan dan staf yang terkait dalam proses pelayanan. Sekolah Menengah Atas sebagai lembaga pendidikan di dalam memberikan pelayanannya kepada anggota masyarakat perlu menerapkan manajemen pendidikan yang baik.yang memuat aspek: Perencanaan, Pengorganisasian, Pengarahan, Pengkoordinasian, Pengawasan, Pembiayaan, dan Pelaporan.

B. Rumusan Masalah

Adapun permasalahan yang ditemukan dari pemaparan di atas adalah sebagai berikut:

1. Apakah yang dimaksud manajemen pendidikan?

2. Bagaimana manajemen pengelolaan pendidikan di Lembaga Pendidikan seperti Sekolah Menengah Atas?

C. Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pengertian manajemen pendidikan.

2. Untuk mengetahui manajemen pengelolaan pendidikan di Lembaga Pendidikan seperti Sekolah Menengah Atas.


BAB II

PEMBAHASAN

Kata manajemen berasal dari bahasa Inggris management, yang diambil dari kata kerja to manage yang artinya mengemudikan, mengendalikan, menyuruh, mengatur, menjalankan, membina dan memimpin. Begitu pula kata manage pun berasal dari bahasa Italia, yaitu kata meneggio. Dan menegio berasal dari bahasa latin managiare, yang diambil dari kata manus, yang berarti hand atau tangan.

Dengan demikian secara etimologi (segi bahasanya), kata manage diartikan sebagai :

  1. House keeping, yang artinya rumah tangga.
  2. To train a horse, yang berarti melatih kuda dengan hentakan-hentakan kakinya.
  3. To direct and control, yang berarti memimpin dan mengawasi, (Chozanah dan Tedjasutisna, 1997 : 21).

Berdasarkan uraian diatas management diartikan sebagai the act or art to managing conduct, direction and control (sebagai tindakan atau seni pengurusan, pengaturan, pengarahan dan pengawasan).

Menurut George R. Terry didalam bukunya “the principles of management” (Chosanah dan Tedjasutisna, 1997 :22), menajemen adalah :

  1. Usaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan lebih dahulu dengan mempergunakan kegiatan orang lain.
  2. Pencapaian tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya melalui usaha orang lain.

Sedangkan dalam ensiklopedi administrasi (Chozanah dan Tedjasutisna, 1997 : 22) manajemen adalah segenap perbuatan menggerakkan sekelompok orang dan menggerakkan fasilitas dalam suatu usaha kerja sama untuk mencapai tujuan tertentu.

Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah suatu proses kegiatan atau usaha untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya melalui kegiatan orang lain. Dalam mencapai tujuannya kegiatan manajemen harus berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip manajemen.


Dari definisi manajemen pendidikan di atas, manajemen yang baik adalah yang memuat aspek : perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, pengawasan, pembiayaan, dan pelaporan. Dari paparan di atas mengenai menajemen pengelolaan pendidikan di Sekolah Menengah Atas bila dilihat dari garis komando yang ada pada struktur organisasinya, yaitu:
























PENJAGA

SISWA

= Garis Komando.

= Garis Koordinasi konsultasi.

Pendekatan yang digunakan dalam menjalankan organisasi ini adalah pendekatan Disentralisasi.


sudah memuat ketujuh aspek manajemen pendidikan. Yang perlu ditingkatkan adalah bagaimana pelayanan yang diberikan kepada masyarakat (Mahasiswa). Kualitas suatu lembaga pendidikan sangat ditentukan oleh kebutuhan masyarakat pemakai jasa Perguruan Tinggi tersebut, dalam hal ini Mahasiswa dan masyarakat pada umumnya. Apabila Mahasiswa menemukan dan mengalami apa yang sesungguhnya yang diperlukan selama mengikuti suatu studi maka Mahasiswa mengatakan bahwa kualitas Perguruan Tinggi itu baik.

Dengan demikian dala suatu lembaga atau Perguruan Tinggi sesungguhnya penilaian terhadap kualitas pelayanan ditentukan oleh Mahasiswa sebagai pemakai jasa pelayanan tersebut. Oleh sebab itu pelayanan dapat diciptakan dengan terlebih dahulu mengidentifikasi keinginan pelanggan tentang pelayanan yang dibutuhkan dan diinginkannya, kemudian disesuaikan dengan pelayanan yang akan disediakan oleh lembaga. Dengan demikian lembaga selalu berusaha menyediakan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan dan keinginan pelanggan atau sama dari apa yang diharapkan, maka dapat dikatakan pelayanan tersebut adalah jelek.

Kualitas pelayanan yang menjadi harapan menjadi pelanggan terhadap organisasi yang memberikan pelayanan seringkali menghadapi beberapa kesenjangan. Untuk diharapkan oleh pelanggan dengan kenyataan yang diterima merupakan sesuatu proses umpan balik dari pelanggan dengan kenyataan secara rutin. Ada beberapa kesenjangan yang dapat terjadi secara teoritis dalam meningkatkan kualitas pelayanan dan kepuasan pelanggan yaitu,

Pertama ; kesenjangan yang ditimbulkan oleh ketidak sesuaian antara identifikasi yang dibuat oleh manajemen tentang harapan-harapan pelanggan dan harapan pelanggan terhadap barang atau jasa pelayanan yang akan diterima. Hal seperti ini dapat disebabkan oleh ketidakmampuan manajemen untuk memahami pelanggan melalui identifikasi kesenjangan tersebut dapat dilakukan dengan cara meningkatkan riset terhadap kebutuhan masyarakat berkaitan dengan layanan institusi, mengembangkan komunikasi yang lebih baik antara manajemen dengan para karyawan yang berhubungan langsung dengan pelanggan, Kedua ; kesenjangan dapat karena ketidakmampuan manajemen dalam merumuskan tingkat sasaran kualitas pelayanan untuk memenuhi harapan pelanggan terutama menerjemahkan spesifikasi pekerjaan guna merealisasikan tingkat kualitas tersebut. Kesenjangan ini ditanggulangi dengan merumuskan kembali tugas-tugas dengan segala perangkatnya, Ketiga ; Kesenjangan juga dapat disebabkan oleh ketidaksesuaian pelayanan yang diberikan kepada pelanggan dalam spesifikasi pelayanan yang telah ditentukan oleh manajemen. Ada beberapa faktor yang menyebabkan ketidak sesuaian tersebut seperti : Kekurangan teamwork, penyeleksian karyawan tidak menggunakan prinsip-prinsip yang baik, kurangnya pelatihan karyawan dan desain pekerjaan yang kurang tepat, Keempat ; Kesenjangan keempat terjadi karena perbedaan antara pelayanan yang dijanjikan oleh manajemen dengan diterima oleh pelanggan. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh manajemen dengan yang tidak diterima oleh pelanggan. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh informasi internal dan eksternal. Komunikasi eksternal dapat terjadi dalam bentuk janji-janji yang berlebihan misalnya melalui iklan dan yang berbentuk internal dapat terjadi karena kurang tersedianya informasi untuk berhubungan dengan para karyawan, dan Kelima ; Kesenjangan yang kelima dapat terjadi karena akumulasi dari kesenjangan-kesenjangan yang lain berakhir pada terjadinya ketidaksesuaian antara harapan pelanggan dengan kenyataan yang diterima.

Suatu tindakan yang bermaksud untuk memenuhi harapan-harapan, pada dasarnya merupakan upaya untuk menghindarkan kedakpuasan pelanggan. Pelanggan mungkin tidak merasa bahwa mereka tidak terpuaskan, tetapi kemungkinan mereka juga tidak merekomendasikan jasa pelayanan yang mereka terima sebagai suatu yang istimewa. Apabila kualitas pelayanan tidak berada diatas standar, maka pelanggan tidak akan merasakan kesenangannya secara khusus. Bagaimanapun juga bila pelayanan tertentu secara khusus. Bagaimanapun juga bila pelayanan tertentu secara konsisten melampaui harapan pelanggan, maka hal tersebut akan dirasakan sebagai sesuatu yang istimewa.

Pelayanan menjadi istimewa ketika Mahasiswa mendapat kejutan atas nilai lebih pelayanan yang diterima yang bagi mereka tidak pernah terbayangkan sebelumnya (kepuasan) pelayanan seperti itulah yang akan memberikan kebahagiaan secara khusus bagi Mahasiswa dan bermuara pada prestasi dan prestise bagi organisasi.

Terciptanya kepuasan dapat memberikan beberapa manfaat, diantaranya hubungan antara organisasi. Dengan pelanggan semakin harmonis, memberikan dasar yang baik bagi terciptanya loyalitas, dan membentuk rekomendasi dari mulut mengenai citra yang menggantungkan organisasi. Untuk itu perlu adanya peningkatan pelayanan sehingga timbul adanya kepuasan bagi pelanggan dalam hal ini Mahasiswa.

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka kunci untuk memberikan kepuasan kepada Mahasiswa adalah berusaha mengetahui terlebih dahulu apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh mereka yang memilih Perguruan Tinggi yang bersangkutan.

Perguruan Tinggi merupakan organisasi yang bergerak dalam bidang jasa oleh karena itu ada beberapa petunjuk yang dapat dijadikan sebagai alat untuk mengidentifikasi kebutuhan dasar manusia yang lazim seperti diaktakan oleh Sulastiyono (1999) sebagai berikut : (a). Kebutuhan untuk disambut baik, (b). Kebutuhan pelayanan yang tepat waktu, (c). Kebutuhan utuk merasakan nyaman, (d). Kebutuhan akan pelayanan yang rapi, (e). Kebutuhan untuk dimengerti, (f). Kebutuhan untuk mendapatkan pertolongan, (g). Kebutuhan untuk merasa penting, (h). Kebutuahn untuk dihargai, (i). Kebutuhan untuk diakui atau diingat, (j) Kebutuhan akan respek.

Agar tujuan tentang kebutuhan dasar manusia tersebut dapat dilaksanakan atau dioperasikan, maka petunjuk-petunjuk itu harus disosialisasikan kepada para pegawai yang akan terlibat dalam memberikan pelayanan. Dengan demikian kepuasan yang merupakan harapan Mahasiswa berupa pelayanan yang diperoleh sesuai dengan pelayanan yang diinginkan. Kepuasan adalah perasaan yang sifatnya sangat obyektif, karena hal ini sangat bergantung pada masing-masing individu untuk menyatukan dan merasakan.

Kondisi ideal yang diharapkan adalah keselarasan antara tingkat kinerja pemberi jasa pelayanan dengan tingkat petingnya jasa tesebut yaitu kinerja tinggi yang ditunjukkan pada faktor-faktor yang dianggap penting. Selain iitu kondisi ideal lainnya adalah keserasian persepsi tentang kinerja tinggi dan anggapan penting oleh pelanggan maka penting juga bagi pihak pemberi layanan.

Dengan demikian demi kelanjutan hubungan antara organisasi dalam hal lembaga pendidikan dan pelanggan yaitu Mahasiswa atau masukan oleh alumni tentang kepuasan yang mereka rasakan selama menjadi pelaggan, maka perlu adanya identifikasi kebutuhan pelanggan untuk menjaga mutu pelayanan.

Kepuasan pelanggan dalam dunia pendidikan dapat dijadikan dapat menjadi salah satu indikator sekolah atau Perguruan Tinggi bermutu sebagaimana dikemukan oleh Paine (1992) bahwa sekolah atau Perguruan Tinggi bermutu adalah memiliki visi dan misi, bekerja dengan menggunakan biaya efesien, disiapkan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan sesuatu yang secara terus menerus ingin melakukan perubahan. Dengan demikian pelayanan dalam rangka kepuasan pelanggan menjadi cukup penting untuk menuju sebuah institusi pendidikan yang berkualitas.

Diatas dapat dikemukakan simpulan bahwa kepuasan pelanggan dalam hal ini adalah kepuasan Mahasiswa merupakan sikap dan persepsi Mahasiswa terhadap pelayanan yang diberikan kepadanya selama menempuh pendidikan disuatu Perguruan Tinggi. Kepuasan pelanggan dapat diukur dari produk yang bermutu, citra lembaga yang terpercaya, pelayanan yang cepat ramah, penuh perhatian dan loyalitas, pelayanan yang tepat waktu, serta tersedianya standar peralatan yang diperlukan Mahasiswa.

PELAYANAN AKEDEMIK MAHASISWA STAH NEGERI GDE PUDJA MATARAM

Patut disadari bahwa pelayanan akademik kemahasiswaan pada STAH Negeri Gde Pudja Mataram sampai usiannya yang ke delapan tahun ini memang belum memnuhi harapan bersama. Hal itu disebabkan oleh kompleksitasnya permasalah seperti : Kurang sumber daya manusia baik dari segi kuantitas maupun kualitas, sarana penunjang pelayanan.

Ditahun mendatang perubahan kearah pelayanan yang lebih baik wajib diupayakan dengan penerapan sistem yang terpadu yaitu sistem data base kemahasiswaan yang terkait langsung dengan loket-loket pelayanan yang melayani : 1) Kartu Mahasiswa (KM), 2) Kartu Rencana Studi (KRS), 3) Kartu Studi Mahasiswa (KSM), 4) Kartu Hasil Studi (KHS), dan 5) Kartu Alumni (KA).

Selain itu data base kemahasiswaan merupakan data yang sangat dibutuhkan oleh setiap unit kerja pada lingkup STAH Negeri Gde Pudja Mataram sebagai bahan dalam pengambilan kebijakan serta pengembangan jangka panjang.

sistem pelayanan tersebut harus diorientasikan pada tujuan sebagai berikut :

1. Mencatat data Mahasiswa secara akurat dan terstruktur pada komputer data base.

2. Mengontrol dan mempercepat pencetakan kartu Mahasiswa.

3. Mempermudah Mahasiswa melakukan registrasi dan heregestrasi.

4. Pengisian KRS

5. Data mata kuliah dan nilai Mahasiswa

6. Statistik Mahasiswa.

Persyaratan yang diperlukan untuk membangun sistem pelayanan yang baik adalah dukungan dari semua kompenen civitas akademika, salah satu hal yang penting adalah dukungan Mahasiswa secara moral akademis dan nyata berupa :

1. Mahasiswa melangkapi biodata.

2. Registrasi dan heregestrasi Mahasiswa pada awal perkuliahan.

3. Mahasiswa mengambil KRS beserta panduannya dan KHS berdasarkan bukti bayar.

4. Mahasiswa mengembalikan KRS yang telah disetujui PA

5. Mahasiswa mengambil KSM

6. Mahasiswa memulai perkuliahan.


BAB III

PENUTUP

1. Simpulan

Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa :

- Manajemen pendidikan adalah suatu seni dan ilmu mengelola sumber daya pendidikan melalui proses perencaaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan.

- Manajemen pengelolaan pendidikan di STAH Negeri Gde Pudja Mataram bila dilihat dari garis komando yang ada pada struktur organisasi sudah memuat ketujuh aspek manajemen pendidikan. Yang perlu ditingkatkan adalah bagimana pelayanan yang diberikan kepada masyarakat (Mahasiswa).

- Patut disadari bahwa pelayanan akademik kemahasiswaan pada STAH Negeri Gde Pudja Mataram sampai usianya yang kedelapan tahun ini memang belum memenuhi harapan bersama. Hal itu disebabkan oleh kompleksitasnya permasalah seperti : kuragnya sumber daya manusia baik dari segi kuantitas maupun kualitas, sarana penunjang pelayanan.

2. Saran

Dari simpulan diatas maka disarankan :

- Adanya upaya-upaya perbaikan dengan penerapan sistem yang terpadu yaitu sistem data base kemahasiswaan yang terkait langsung dengan loket-loket pelayanan yang melayani : 1) Kartu Mahasiswa (KM), 2) Kartu Rencana Studi (KRS), 3) Kartu Studi Mahasiswa (KSM), 4) Kartu Hasil Studi (KHS), dan 5) Kartu Alumni (KA).

- Data base kemahasiswaan merupakan data yang sangat dibutuhkan oleh setiap unit kerja pada lingkup STAH Negeri Gde Pudja Mataram sebagai bahan dalam pengambilan kebijakan serta pengembangan jangka panjang.

sistem pelayanan tersebut harus diorientasikan pada tujuan sebagai barikut :

1. Mencatat data Mahasiswa secara akurat dan terstruktur pada komputer data base.

2. Mengontrol dan mempercepat pencetakan kartu Mahasiswa.

3. Mempermudah Mahasiswa melakukan registrasi dan heregestrasi.

4. Pengisian KRS

5. Data mata kuliah dan nilai Mahasiswa

6. Statistik Mahasiswa.

- Adanya dukungan dari semua kompenen civitas akademika, salah satu hal yang penting adalah dukungan Mahasiswa secara moral akademis dan nyata berupa :

1. Mahasiswa melangkapi biodata.

2. Registrasi dan heregestrasi Mahasiswa pada awal perkuliahan.

3. Mahasiswa mengambil KRS beserta panduannya dan KHS berdasarkan bukti bayar.

4. Mahasiswa mengembalikan KRS yang telah disetujui PA

5. Mahasiswa mengambil KSM

6. Mahasiswa memulai perkuliahan.


TUGAS MANAJEMEN PENDIDIKAN

ANALISIS MANAJEMEN SERTA KEPEMIMPINAN

DI LEMBAGA PENDIDIKAN TINGKAT

SEKOLAH MENENGAH ATAS

OLEH :

WAYAN ARDANE

NIM. 061 111 51

DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA

SEKOLAH TINGGI AGAMA HINDU NEGERI GDE PUDJA

MATARAM

2009


KATA PENGANTAR

Om Swastyastu,

Puji syukur saya panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena hanya atas asung kerta wara nugraha-Nyalah sehingga makalah yang berjudul “Analisis Manajemen Serta Kepemimpinan Di Lembaga Pendidikan Tingkat Sekolah Menengah Atas” ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

Dalam penyusunan makalah ini tidak luput dari batuan berbagai pihak, maka dalam kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada bapak Dosen yang telah memberikan waktu kepada saya dalam menyelesaikan makalah ini. Terima kasih juga saya ucapkan kepada rekan-rekan serta seluruh pihak yang telah banyak memberi bantuan baik moril maupun materiil sehingga makalah ini dapat terselesaikan.

Saya menyadari makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, hal ini dikarenakan oleh beberapa hal antara lain adalah keterbatasan pengetahuan penyusun sebagai manusia yang tidak luput dari kesalahan. Maka dari itu saya sangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya mambengun dari pembaca.

Akhir kata Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Om Shanti, Shanti, Shanti Om.

Mataram, Pebruari 2009

Penulis,


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR................................................................................... i

DAFTAR ISI................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN........................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN.............................................................................. 2

BAB III ........................................................................................................... PENUTUP 24

DAFTAR PUSTAKA

LANDASAN PAEDAGOGIK

LANDASAN PAEDAGOGIK

PENDIDIKAN SEBAGAI UPAYA PENGEMBAGAN DIRI

A. Perkembangan Pendidikan

Pendidikan merupakan suatu usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana, yang diberikan oleh para pendidik kepada peserta didik yang berisi tentang arahan, bimbingan dan pengajaran yang bertujuan untuk mencapai suatu perubahan kearah yang lebih baik. Program pendidikan perlu dikembangkan sesuai dengan perkembangan individu dan masyarakat, yang mana dalam perkembangan itu tampak dalam tiga (tiga) arah, yaitu: meninggi, meluas dan mendalam.

- Arah meninggi tampak dalam bertambahnya kesempatan dan kemungkinan bagi murid untuk mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

Arah ini menimbulkan kebutuhan bimbingan bagi para murid-murid untuk dapat melanjutkan pelajaran.

- Arah meluas tapak dalam pembagian sekolah dalam membagi jurusan khusus dan sekolah kejuruan.

Hal ini menimbulkan kebutuhan akan bimbingan untuk memilih jurusan yang khusus dan memilih bidang studi yang tepat bagi setiap murid.

- Arah mendalam tampak dalam berkembangnya ruang lingkup dan keragaman dan disertai dengan pertumbuhan tingkat kerumitan dalam setiap bidang studi.

Hal ini menimbulkan masalah bagi murid untuk mendalami tiap bidang studi dengan tekun. Perkembangan ini juga menyangkut terhadap kemampuan dan sikap serta minat murid terhadap bidang studi tertentu.

Pendidikan sangat dibutuhkan dalam kehidupan masyarakat karena pendidikan dapat membuat seseorang menjadi berpikir maju, sehingga mampu menghadapi suatu persaingan dalam kehidupan.

Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, disiplin, beretos kerja, profesional, bertanggung jawab, produktif, sehat jasmani dan rohani, berjiwa patriotik, memiliki rasa cinta tanah air, semangat kebangsaan, kesetiakawanan pada bangsa, bersikap menghargai jasa para pahlawan , berorientasi masa depan. Dengan terwujudnya pendidikan tersebut, maka sudah tentu kita akan mengalami suatu keberhasilan dan kesuksesan dalam mencapai cita-cita hidup.

Pendidikan yang terjadi di Indonesia sekarang ini banyak mengalami suatu perubahan dan banyak mengalami perkembangan kearah yang lebih baik, dulu pendidikan hanya bisa diperoleh oleh kaum bangsawan dan orang-orang kaya saja, kaum wanita tidak berhak merasakan bagaimana rasanya mendapatkan suatu pendidikan, namun karena adanya suatu perjuangan dari para pahlawan maka pendidikan berhak didapatkan oleh setiap orang hingga sampai sekarang pendidikan telah menjadi tuntutan yang utama, bahkan seseorang wajib dan diharuskan untuk mengikuti suatu pendidikan dan telah ditanggung oleh pemerintah, karena pendidikan di sekolah merupakan program dalam memajukan bangsa dan Negara.

Pendidikan terjadi dan didapatkan oleh setiap orang semenjak ia terlahir hingga tumbuh menjadi dewasa sampai tua, pendidikan dimuali dari keluarga, masa kanak-kanak, masa anak sekolah, masa dewasa dan masa tua, itulah tahapan-tahapan seseorang dalam memperoleh suatu pendidikan.

B. Landasan Paedagogik

Landasan paedagogik merupakan suatu perkembangan yang terjadi dalam masyarakat yang menyangkut dalam perkembangan suatu pendidikan, karena pendidikan merupakan salah satu lembaga sosial yang universal dan berfungsi sebagai sarana produksi. Yang dimaksudkan dalam produksi sosial ini dimaksudkan bahwa dengan adanya suatu nilai-nilai budaya dan norma-norma sosial yang sebagai landasan seseorang dalam kehidupan masyarakat dapat melakukan hal-hal yang baik sehingga apa yang dicita-citakan dalam kehidupan tersebut dapat diwujudkan dengan melalui sebuah pendidikan.

Maka dari itu pula masyarakat melakukan berbagai cara untuk mendidik anggotanya, untuk dapat berkembang menjadi lebih maju dengan menanamkan etika sosial dan melalui sebuah pengajaran dan pendidikan seseorang dapat berubah menjadi lebih maju.

Pendidikan yang pada mulanya diberikan kepada seorang anak semenjak ia masih kecil, pendidikan berawal dari keluarga yang berisi tentang bimbingan dan arahan yang kemudian meluas menggunakan berbagai alat bantu yang didukung dengan teknologi modern.

Didalam dunia pendidikan sekarang ini, masyarakat sudah banyak mengalami perubahan dan perkembangan. Disamping untuk mendapatkan suatu pendidikan dan pengajaran, melalui pendidikan seseorang dapat berkembang menjadi lebih maju karena adanya berbagai bantuan teknologi modern, dengan adanya hal tersebut melalui sebuah pendidikan seseorang dapat menciptakan dan menghasilkan berbagai temuan-temuan baru yang sangat menguntungkan dengan perkembangan suatu pendidikan seseorang dapat menciptakan hasil budaya maka dari itu pendidikan sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat.

C. Pendidikan Sebagai Upaya Pengembangan Diri (Individu)

Bimbingan konseling merupakan suatu bimbingan dari manusia, oleh manusia dan untuk manusia, manusia yang dimaksud adalah manusia yang berkembang, yang terus-menerus berusaha mewujudkan segala cita-cita dan tujuan dalam hidupnya sehingga ia menjadi manusia yang seutuhnya yang berbudi pekerti luhur dan berpengetahuan tinggi, yang mana semua itu diwujudkan melalui suatu proses pendidikan.

Melalui pendidikan seorang bayi manusia yang terlahir mampu mengembangkan dimensi keindividuannya, kesosialannya, kesusilaannya dan keberagamaanya, ia akan menjadi manusia alam bukan manusia budaya yang hidup bersama dengan manusia-manusia lainnya dalam tata budaya tertentu. Dari hal teresebut maka dapat diartikan bahwa pendidikan merupakan suatu upaya membudayakan manusia muda. Melalui proses pendidikan manusia muda dapat melakukan segala tugas-tugas demi meraih masa depan mereka, dengan proses pendidikan manusia muda mampu mengembangkan diri dengan potensi yang dimiliki dan prasarana serta sarana-sarana yang tersedia.

Pendidikan merupakan usaha yang sengaja dan terencana untuk membantu perkembangan potensi dan kemampuan anak agar bermanfaat bagi kepentingan hidupnya sebagai seorang individu dan sebagai warga negara/masyarakat, dengan memilih isi, strategi kegiatan dan teknik penelitian yang sesuai. Maka dari itu pendidikan dapat dikatakan mempunyai suatu peranan yang besar dalam mencapai keberhasilan dalam perkembangan anak. Dan dalam sejarah pendidikan dapat dijumpai berbagai pandangan atau teori mengenai bagaimana perkembangan mansuia itu berlangsung. Ada empat teori tentang perkembagan manusia, yaitu :

1. Empirisme

Teori ini mengatakan bahwa hasil pendidikan dan perkembangan bergantung pada pengalaman-pengalaman yang diperoleh anak didik selama hidupnya.

Teori ini dikemukakan oleh Jhon Locke tentang teori tabularasa yaitu anak terlahir bagaikan kertas putih/anak terlahir tanpa pengetahuan, (kekosongan) dan akan diisi sesuai pada apa yang mendidiknya, ia terlahir tanpa adanya pembawaan dan akan bisa terpengaruh oleh lingkungan atau dunia luar, jika baik cara kita mengisinya maka ia akan berkembang menjadi baik dan bergitu pula sebaliknya.

2. Nativisme

Teori ini mengatakan bahwa bayi terlahir dengan pembawaan baik dan pembawaan buruk, dan hubungannya dengan pendidikan dan perkembangan manusia, ia berpendapat bahwa hasil akhir pendidikan dan perkembangan tersebut ditentukan oleh pembawaan yang sudah diperoleh semenjak kelahirannya. Jadi faktor lingkungan tidak dapat mempengaruhinya.


3. Naturalisme

Teori ini mengatakan bahwa semua anak adalah baik pada waktu baru datang dari tangan sang pencipta, tetapi semua menjadi buruk ditangan manusia, artinya pada mulanya semua anak yang baru lahir adalah baik namun dengan adanya pendidikan dapat merusak pembawaan anak yang baik pada waktu ia dilahirkan, jadi dalam hal ini pendidikan sangat diperlukan bagi pengembangan bakat dari kemampuan anak.

4. Konvegensi

Teori ini berusaha menggabungkan dua pendapat yaitu teori empirisme dan nativisme, yang mengatakan bahwa anak dilahirkan dengan pembawaan baik dan pembawaan buruk, jadi dalam teori ini sangat dipengaruhi oleh adanya faktor pembawaan dan faktor lingkungan.

Pendidikan adalah bagian dari lingkungan yang sangat penting perananya dalam membantu anak mengembangkan kemampuan dan potensi agar bermanfaat bagi kehidupannya, baik secara perorangan, maupun sebagai anggota masyarakat, serta kehidupannya sehari-hari pada saat sekarang ataupun persiapan kehidupannya yang akan datang.

Menurut Undang-Undang No 2/1989 tentang pendidikan nasional menetapkan pengertian pendidikan sebagai usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan/atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang. Yang tujuan dari pendidikan itu adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Maka dalam pelayanan bimbingan dan konseling harus terkandung kompenen-kompenen seperti :

- Merupakan usaha sadar.

- Menyiapkan peserta didik

- Untuk peranannya di masa yang akan datang.

Dalam tujuan bimbingan dan konselingpun tidak boleh menyimpang dari tujuan-tujuan pendidikan yang ada. Pada dasarnya tujuan bimbingan dan konseling adalah agar klien-klien lebih mantap dalam keberagamaanya, berbudi luhur, berpengetahuan dan berketerampilan yang menjadi sesuai dengan kebutuhan kehidupan dan pengembangan dirinya, sehat jasmani dan rohani, mandiri serta memiliki tanggung jawab sosial kemasyarakatan dan kebangsaan.

Jadi dalam hal ini pendidikan sangat dibutuhkan untuk mengembangkan diri dalam persaingan hidup, untuk dapat lebih maju dan berkembang, pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan.


KESIMPULAN

Jadi landasan paedagogik merupakan suatu perkembangan yang terjadi dalam masyarakat yang mana menyangkut tentang pendidikan. Pendidikan sangat menguntungkan bagi masyarakat yang mana dapat menciptakan hasil budaya dari pendidikan tersebut, yang mana melalui pendidikan sebagai upaya pengembangan diri. Jadi pendidikan sangat dibutuhkan untuk pengembangan diri dalam persaingan hidup, untuk dapat lebih maju dan berkembang.


DAFTAR PUSTAKA

Prayitno.,Amati, Erman. 1994. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta

Prayitno. 1999. Panduan Kegiatan Pengawasan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.


TUGAS

BIMBINGAN KONSELING

DISUSUN OLEH

1. NI MADE LENY SUPARTINI ( 061 111 )

2. NI PUTU EKA KUSUMANING TYAS ( 061 111 18 )

3. I MADE RANO DIHARJO ( 061 111 )

4. I WAYAN SUDARTA ( 061 111 )

DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA

SEKOLAH TINGGI AGAMA HINDU NEGERI GDE PUDJA

MATARAM

2009


KATA PENGANTAR

Om Swastyastu

Puji syukur kami panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena hanya atas asung kerta wara nugraha-Nyalah sehingga Tugas dari Mata Kuliah Bimbingan Konseling ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.

Dalam penyusunan makalah ini tidak luput dari batuan berbagai pihak, maka dalam kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dosen yang telah memberikan waktu kepada kami dalam menyelesaikan makalah ini. Terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman serta seluruh pihak yang telah banyak memberi bantuan baik moril maupun materiil sehingga makalah ini dapat terselesaikan.

Kami menyadari makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan, hal ini dikerenakan oleh beberapa hal antara lain adalah keterbatasan pengetahuan penyusun sebagai manusia yang tidak luput dari kesalahan. Maka dari itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang sifatnya mambangun dari pembaca.

Akhir kata Semoga tugas ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Om Santi, Santi, Santi Om

Mataram, Mei 2009

Penulis,


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR................................................................................... i

DAFTAR ISI................................................................................................... ii

LANDASAN PAEDAGOGIK PENDIDIKAN SEBAGAI

UPAYA PENGEMBAGAN DIRI................................................................ 1

  1. Perkembangan Pendidikan................................................................... 1
  2. Landasan Paedagogik........................................................................... 2
  3. Pendidikan Sebagai Upaya Pengembangan Diri (Individu)................. 3

KESIMPULAN............................................................................................... 7

DAFTAR PUSTAKA

Upacara Bhuta Yadnya

BAB I

PENDAHLUAN

1.1 Latar Belakang

Pada setiap saat di pelemehan desa adat banjar juga di pekarangan pauahan umat Hindu di Bali menyelengarakan suatu upacara yang disebut “Mecaru”. Demikian juga pada setiap musim (masa) yang juga disebut “Sasih” pada hari Kajeng Kliwonya pada bulan mati. Pada setiap pintu pekarangan umat Hindu juga menyelenggarakan pecaruan yang disebut “Carun Sasih”.

Upacara-upacara tersebut secara rutin masih dilakukan oleh umat Hindu dipedesaan. Namun apa sesungguhnya upacara dimaksud dan apa tujuannya ternyata banyak dikalangan umat Hindu yang tidak tahu. Kalau ditanya ya jawabnya “mule keto”. Hal ini tidak tidak boleh dibiarkan terus. Lebih-lebih dalam memasuki era globalisasi. Oleh karena itu upacara-upacara tersebut diatas perlu diungkapkan secara ilmiah popular untuk mudah dipahami terutama oleh umat Hindu sendiri, bila hal ini kita tidak lakukan akan timbul kekhawatiran nantinya tentang kelanjutan pelaksanaan upacara dimaksud.

1.2 Rumusan Masalah

Beberapa masalah yang akan diungkapkan sesuai dengan judul makalah ini antara lain :

  1. Apa sesungguhnya caru itu dan apa yang melatar belakangi adanya cari itu?
  2. Apa maksud dan tujuan caru itu ?
  3. Apa arti simbol-simbol yang dipergunakan dalam caru itu?
  4. Jenis-jenis caru ?

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Caru Dan Bhuta Yadnya

2.1.1 Pengertian Caru

Dalam kamus Sansekerta dijumpai arti kata caru itu adalah bagus, cantik, harmonis. Mecaru dalam bahasa Bali artinya menyelenggarakan caru yang mempunyai maksud mempercantik, memperbagus dan mengharmoniskan. Apakah yang diharmoniskan ? tergantung pada obyeknya. Kalau caru itu caru palemahan atau areal itu sendiri. Kalau caru sasih maka yang diharmoniskan adalah waktu atau musim atau masa. Sedangkan caru oton yang diharmoniskan adalah perilaku manusia yang antara lain diakibatkan oleh pengaruh kelahiran atau oton. Caru juga mempunyai pengertian yang khusus, yang dikaitkan dengan sarana upacara. Caru sebagai sarana berarti “sega” atau nasi dalam segala bentuknya, ada yang berbentuk tumpeng kecil-kecil. Sega atau nasi dilengkapi dengan lauk pauk.

2.1.2 Bhuta Yadnya

Bhuta yadnya terdiri dari dua kata yaitu bhuta dan yadnya. Bhuta berasal dari kata bhu yang artinya ada, tampak dengan mata kasar. Buta sesuai dengan sifatnya, ia pasif, tidak bergerak, tenaga atau energi dalam bahasa yoga adalah “prana”. Dalam bahasa agama disebut kala. bersatunya bhuta atau benda-benda material yang sangat besar dan banyak ini lalu bergerak dengan sangat hebatnya.

2.2 Sumber Ajarannya

Bhuta yadnya, korban kepada Bhuta Kala adalah bersumber dari ajaran keagamaan Tantrayana, Tantrayana termasuk sekta-sekta atau saktiisme dan mazab Siwa (Siwa Paksa), disebut saktiisme karena yang dijadikan obyek persembahannya adalah sakti, sakti dilukiskan sebagai Dewi, sumber kekuatan atau tenaga, sakti adalah simbol dari Bali atau kekuatan (sakti is the symbol of bala or strength).

Dengan demikian saktiisme sama dengan kalaisme sekte keagamaan “kalaisme’ disebut juga “kalamukha” atau “kalikas” dan disebut juga “kapalikas” atau Tantrayana kiri. Pengikut ini di India kebanyakan dari suku Dravida, penduduk asli India dari pendekatan antropologi budaya kepercayaan sejenis ini disebut Dynamisme.

2.3 Jenis-Jenis Caru

Dimuka telah dijelaskan, bahwa caru adalah bertujuan untuk mengharmoniskan alam lingkungan dengan segala aspeknya termasuk yang ada pada diri manusia sebagai bagian dari alam itu sendiri (Bhuana Alit).

Dengan demikian menurut obyeknya maka caru terdiri dari tiga jenis yaitu :

1. Caru Bumi Sudha adalah caru untuk menyeimbangkan atau mengharmoniskan bumi atau alam sekitar dan lingkungannya.

2. Caru Sasih adalah caru untuk menyeimbangkan atau mengharmoniskan ruang dan waktu.

3. Caru Oton atau bea kaluning rare metu adalah caru untuk mengharmoniskan perilaku manusia atas pengaruh kelahiran.

Caru Palemahan

Caru pelemahan adalah upacara untuk mengharmoniskan “areal palemahan atau wilayah” areal yang dimaksudkan adalah wilayah hunian, baik hunian manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan, bahkan juga termasuk areal yang di istana para dewa-dewa yang kita kenal dengan nama perhayangan.

Besar kecil palemahan dan juga tingkatan pelemahan akan menekankan besar kecilnya caru yang digunakan untuk menyucikan palemahan itu.

Palemahan terdiri dari :

1. Palemahan karang.

2. Palemahan banjar.

3. Palemahan desa adat.

4. Perhyangan

Jenis caru yang dilaksankan untuk mengharmoniskan karang perumahan adalah :

1. Caru Eka Sata

Caru eka sata digunakan untuk mengharmoniskan karang perumahan yaitu :

a. Caru kareng panas adalah selalu mendatangkan penyakit bagi penghuninya.

b. Caru karang gering, ciri-cirinya adalah penghuninya selalu kesakitan.

2. Caru Panca Sata

Caru panca sata adalah jenis caru yang mempergunakan lima ekor ayam warna menurut lima mata angin (pangider ider) putih di timur, merah atau bying (kuning) di selatan, hitam (ireng) di utara, putih kuning di barat, dan brumbun ditengah.

Pengguaan jenis caru ini antara lain :

1. Untuk membersihkan pekarangan rumah yang dilaksanakan tiap 5 tahun sekali.

2. Untuk merebu-rebu (mebersih) di perhyangan, setelah adanya ke “cuntaka” atau bersama piodalan dalam tingkat yang lebih besar.

3. Di banjar atau desa adat setiap hati “ngerupuk” pada sasih kesanga atau ketika ada sesuatu hal yang tidak wajar.

3. Caru Panca Sanak

Caru panca sanak adalah caru yang dasarnya adalah panca sata, lalu ditambah dengan satu unit lagi, yang ditempatkan dibarat daya. Binatang yang dipergunakan adalah anjing bang bungkem. khususnya unit caru anjing ini adalah merupakan simbol dari Bhuta Kala yang dibawah kekuasaan Dewa Rudra. Unit caru anjing bang bungkem lebih angker, lebih aheng, lebih galak.

4. Caru Panca Sanak Madurga

Caru panca sanak yaitu caru yang mempergunakan ayam lima ekor dengan lima warna, dengan tambahannya seekor meri dan seekor binatang berkaki empat yang berupa “kucit hitam butuhan”.

Caru ini dipergunakan pada caru-caru “penakluk marana” yang diselenggarakan di “penangkalan desa” pada sasih keenem yang dimaksud penangkalan desa adalah batas desa bagian selatan (kelod).

5. Caru Sanak Magodel

Bila mana caru panca sata ditambah degan satu unit caru dengan “bayang-bayang” dan “olahan godel” maka disebut caru panca sanak, tapi bukan ditemukan namanya oleh masyarakat dewa. Disebut juga dengan nama caru panca godel. Caru ini dilaksanakan pada tileming kepitu atau kajeng kliwon uwudan (bulan mati pada sasih kepitu). Caru panca godel dipersembahkan kepada “Bhatari Durga’.

6. Caru Rsi Gana

Adalah caru panca sanak agung ditingkatkan dengan menghadirkan “Dewa Gana” sebagai “Penghulun Natangan” jadi Dewa Gana pada Siwa sebagai penghulun rinlangan luh yang dihadirkan. tujuannya adalah agar tempat itu tidak ada gangguan dari pada Bhuta Kala yang merupakan “vadya” dan Bhatari Durga. Dengan demikian terwjudlah keharmonisan.


BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Setelah menyimak makalah ini tentang caru maka dapat disimpulkan bahwa caru itu bertujuan mengharmoniskan wilayah palemahan dan waktu demi ketentraman bagi umat manusia dan juga adanya korban caru bukan berarti umat menyembah Bhuta Kala seperti setan, jin, raksasa, pisaca, danawa dan lain sebagainya, melainkan hanya menjaga hubungan yang harmonis agar mereka tidak menganggu kehidupan manusia.

3.2 Saran

Manusia yang beragama Hindu diwajibkan melaksanakan caru agar tercipta hubungan yang harmonis dengan mahluk lain.


DAFTAR PUSTAKA

Singgih Wikarma, I Nyoman. 1998. Caru Pelemahan Dan Sasih. Surabaya: Paramita.

Wiana, I Ketut. 2002. Makna Upacara Yadnya Dalam Agama Hindu. Surabaya : Paramita




MAKALAH TPA

UPACARA BHUTA YADNYA

(CARU)

DISUSUN OLEH

Nama : Wayan Ardane

Nim : 061 111 51

Prog/Jur : S1/Pendidikan

Semester : IIIB (Pagi)

DEPARTEMEN AGAMA REPUBLIK INDONESIA

SEKOLAH TINGGI AGAMA HINDU NEGERI GDE PUDJA

MATARAM

2009


KATA PENGANTAR

Om Swastyastu

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat-Nya penyusunan makalah yang berjudul “Upacara Bhuta Yadnya (Caru)” dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini tidak akan membuahkan hasil yang baik, tanpa bantuan yang sangat berharga dari berbagai pihak, pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada Ibu dosen pengampu mata kuliah Weda yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan serta rekan-rekan Mahasiswa yang telah banyak memberikan dorongan semangat kepada penulis.

Dalam penyusunan ini penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan pada kesmpatan ini penulis berharap kritik dan saran yang bersifat membangun guna penyempurnaan penulisan pada masa-masa mendatang.

Om Santi, Santi, Santi Om

Mataram, Januari 2009

Penulis,


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR................................................................................... i

DAFTAR ISI................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang............................................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah........................................................................ 1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Caru Dan Bhuta Yadnya........................................... 2

2.2 Sumber Ajarannya....................................................................... 2

2.3 Jenis-Jenis Caru............................................................................ 3

BAB III ........................................................................................................... PENUTUP

3.1 Kesimpulan.................................................................................. 6

3.2 Saran............................................................................................ 6

DAFTAR PUSTAKA